snakepit

long haired guy...

  • Home
  • Web
    • Pengembangan Situs
    • Web Monetization
  • Rockumentary
  • Life!
  • Hak Cipta
  • Tentang Saya
  • Kontak
Navigasi: Home / Life / Yan, Bajumu Hitam Semua-kah?

Yan, Bajumu Hitam Semua-kah?

24.11.2015

Minggu siang yang panas, kreasi api rokok yang nyaris menyentuh bibir. Semakin menjadi saat mengecap kopi di dalam ruangan bercat putih kekuning-kuningan, atau mungkin kecoklat-coklatan itu. Entahlah, ingatan saya hanya menyimpan gambaran mengenai warna tembok yang terdistorsi oleh mobil mewah di halamannya.

Di ruangan yang pengap itu, seorang teman menyampaikan kabar bahwa 14 hari dari sekarang, salah satu teman kita akan menikah. Ya, menikah. Sebuah kata yang belakangan saya sadari sudah menggeser kedigdayaan kata wisuda.

Saya pun mulai melakukan persiapan lebih dini dengan melihat-lihat katalog baju di Internet. Tujuannya untuk menemukan pakaian yang bisa mengalihkan perhatian orang di gedung nantinya. Berharap perhatian mereka teralihkan sehingga tidak terfokus pada pertanyaan “Yan, kamu kapan nyusul?”.

Sambil mensortir pakaian berdasarkan harga yang paling murah, orang di sebelah saya bertanya,

“Ededeh… tidak ada yang lain kah?”
Saya membisu.

“Yan, bajumu hitam semua kah?”
Kali ini saya tersenyum.

Tersenyum kala menyadari bahwa pertanyaan tersebut baru saja dilontarkan oleh wanita berjilbab hitam berbalut kaos hitam pula. Rasanya, lidah ini ingin merespon balik dengan kalimat “Kamu suka hitam juga yah?”. Namun di saat bersamaan, ada motor bersuara bising yang membuat saya kehilangan momentum.

Skenario roman berakhir lebih awal.

***

Di jalan, ingatan saya selalu terbayang akan pertanyaan wanita itu. Dari kecil, saya memang sangat suka dengan baju hitam, namun baru sekitar 5 tahun belakangan ini saya berkomitmen untuk tidak lagi menggunakan pakaian selain warna hitam. Ya, guru seni saya waktu SMA dulu, Bapak Buyung Zulkifli, pernah mengatakan bahwa hitam dan putih bukanlah bagian dari warna, tapi saya tetap merasa nyaman untuk menggunakan kata warna sebelum kata hitam itu.

Adapun pertanyaan mengenai baju warna hitam itu tidak pernah saya tanggapi secara serius. Saya tak pernah memberikan jawaban dengan bahasa alami, dengan bahasa yang bisa dibuktikan secara eksplisit atau disetujui secara umum. Intinya, saya suka dengan warna hitam.

Namun adanya keterlibatan bumbu-bumbu romantisme dari wanita yang khas dengan sneaker kotornya itu membuat saya ingin melakukan semacam peninjauan ulang. Tentu ada alasan logis yang bisa menghubungkan saya dengan kaos hitam. Saya mungkin tidak begitu tertarik dengan logika matematika, namun sepertinya kali ini saya membutuhkan sebuah proposisi.

PIGMEN HEAVY METAL

Setelah tiba di rumah, saya melakukan prosedur umum: Menuju kamar tanpa mengucapkan salam pada orang tua. Alih-alih bertutur sapa bersama mereka, saya lebih menuruti hasrat untuk mengunci diri di kamar sambil memutar album Suicide Society dari Annihilator, hasil download secara ilegal tentunya. Sembari mengangguk-anggukkan kepala pertanda setuju dengan gesekan gitar Jeff Waters, saya menggantung pakaian di belakang pintu dan kembali melihat jejeran kaos hitam di sana. Ada kaos Megadeth, Iron Maiden, dan Motörhead yang berpadu dengan aroma apek namun terasa khas bagi hidung saya.

Bang…!!! saya pun menyadari satu hal: Musik metal adalah alasan mengapa saya menaruh kecintaan berlebih pada baju hitam. Ya, ini dia alasan yang logis menurut saya.

Menariknya, tidak ada data atau jurnal di perpustakaan umum yang bisa menjelaskan mengapa musik metal selalu identik dengan warna hitam. Nah, berangkat dari kondisi tersebut, maka saya berniat untuk menciptakan hipotesa sendiri. Bagaimanapun juga, ini merupakan halaman pribadi saya yang berarti saya memiliki kebebasan dalam menulis, terlepas dari latar pendidikan saya.

Kita mulai dari Black Sabbath, band yang sepertinya bisa kita sepakati sebagai pencipta Heavy Metal (Ya saya tahu bahwa Steppenwolf adalah band yang mencetuskan heavy metal, namun sebatas konteks, bukan secara teknis). Jika kita kembali melihat rekaman Black Sabbath di akhir 60-an, tak satupun personilnya yang mengenakan atribut hitam-hitam. Malah mereka terkesan sangat berwarna-warni. Begitu pula dengan Deep Purple, MC5, Blue Cheer, Mountain, dan band-band generasi early metal lainnya. Mereka tak pernah menjadikan warna hitam sebagai atribut yang wajib.

Namun hal tersebut mulai terkonsep saat Judas Priest bersama dengan rombongan New Wave of British Heavy Metal menginvasi industri musik di awal 80-an. Judas Priest memang sangat visual. Mereka mampu menjadi role model dengan mengenalkan kaos, jaket kulit, dan celana ketat berwarna hitam yang kemudian menarik minat para metalhead. Hal ini tak terlepas dari kesuksesan Judas Priest dalam mendefinisikan ulang heavy metal kreasi Black Sabbath satu dekade sebelumnya. Kombinasi 2 gitar dari K.K. Downing dan Glenn Tipton yang terus melengking membuat banyak pihak sepakat bahwa itulah yang disebut heavy metal. Sebuah pengklasifikasian yang menempatkan Black Sabbath ke dalam sub-genre bernama doom metal.

Musik Judas Priest yang berhasil mencuri perhatian secara otomatis membuat penampilannya juga ikut terdongkrak. Dan entah mengapa, penampilan Judas Priest yang serba hitam itu bisa diterima sebagai sebuah kebenaran yang bersifat umum, tanpa memerlukan pembuktian apapun.

MENYERAP PIGMEN HEAVY METAL

Saya tumbuh besar di lingkungan yang agak “metal”, baik itu dari segi pola asuh, finansial, maupun sosial. Untuk jenis musik, saya mendapatkan pengaruh dari kakak sepupu dan orang-orang dewasa lainnya. Merekalah orang-orang yang bertanggung jawab secara moral karena mengenalkan saya pada Guns N’ Roses dan Bon Jovi, band yang secara teknis sebenarnya tidak terlalu metal. Namun kedua band itulah yang mengarahkan saya untuk mengeksplor lebih banyak mengenai dunia metal.

Seiring waktu, saya mulai akrab dengan bebunyian yang berisik, lirik yang skeptis, cover album yang satanis, dan sejumlah “kehitaman” dunia metal. Dan, ketika saya sudah memiliki akses sendiri terhadap uang, maka saya mulai memenuhi tanggungjawab kehitaman itu. Salah satunya dengan menebus kaos-kaos berwarna hitam. Ada rasa puas, mengingat selama ini Ibu saya menjadikan gambar pada kaos-kaos tersebut sebagai hal terlarang. Misalnya saja iron cross milik Motörhead yang ia anggap sebagai pembangkangan terhadap agama. Maaf ya Bu.

Tampaknya, alasan-alasan seperti di atas yang secara alamiah menggiring saya untuk setia pada kaos hitam, setia dalam berbagai konteks. Saya tak lagi mengindahkan esensi sebuah situasi, baik itu formal atau yang bernuansa realigius sekalipun. Saya mensakralkan warna hitam dibanding warna lainnya.

***

Pernyataan yang saya buat kali ini bukan berarti bahwa saya tidak ingin mengenakan kaos selain warna hitam, karena saya masih membuka kemungkinan tersebut. Mungkin di suatu masa, ketika mereka sudah menciptakan warna yang lebih gelap dari warna hitam.

Kategori: Life Tag: Baju Hitam

Banyak yang mengatakan tulisan saya tidak mendidik. Ya, saya memang bukanlah seorang pendidik.

Komentar

  1. back2black :

    28/12/2015 pada 8:02 am

    hahaha .. mantap gan.. gas teroos! #salamsatukaki hha

    Reply
    • Snakepit :

      28/12/2015 pada 4:22 pm

      hahaha…
      cepat sembuh cederamu yah yub!
      stay healthy and keep metaalll…

      Reply
  2. Curl :

    30/08/2016 pada 1:53 pm

    Beberapa band yang lo sebut gak gua kenal, tapi ngerti secara umum.

    Gua pribadi cuma pake baju hitam sesekali, karena gua punya alasan sendiri saat berbusana:
    1. Berat badan gua cukup berfluktuasi, sehingga ukuran menjadi prioritas.
    2. Penyesuaian terhadap harga.
    3. Desain.

    Reply
    • Snakepit :

      30/08/2016 pada 5:57 pm

      Cie, Richie Sambora. Pfftt…!

      Reply

Leave a Reply to Curl Cancel reply

Copyright © 2026 · Tampilan "Modern Studio Pro Theme" dengan "Genesis Framework" ·