Sore itu, hujan mengurung saya di kamar kost seorang mahasiswa pascasarjana yang penuh sesak dengan buku-buku lusuh. Pria asli Padang yang belakangan terhasut dengan manifesto “Heavy Metal” ini ternyata memiliki kebiasaan untuk mendokumentasikan karya-karya para mufti.
Awalnya, saya tidak begitu tertarik melihat koleksinya, namun membosankannya rinai hujan di luar sana membuat saya tak ada pilihan lain selain membuka lembar demi lembar. Aktifitas itu kemudian tersandung saat melihat sebuah syair dari Imam Syafi’i bertajuk: Pergilah (Merantaulah).
Bak memandangi betina berpayudara makro, mata ini terpaut!. Ya, sudah 7 tahun lebih saya mengemban titel sebagai anak rantau (anak kost, lebih tepatnya) dan melihat syair tersebut menelurkan sebuah bisikan bernada: “Ini adalah kamu”.
Kagum, saya akhirnya memutuskan untuk meyalinnya di sini:
Orang pandai dan beradab
tak ‘kan diam di kampung halamanTinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang
Pergilah ‘kan kau dapatkan pengganti dari kerabat dan teman
Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuangAku melihat air yang diam menjadi rusak karena diam tertahan
Jika mengalir menjadi jernih, jika tidak, dia ‘kan keruh menggenangSinga tak ‘kan pernah memangsa jika tak tinggalkan sarang
Anak panah jika tidak tinggalkan busur tak ‘kan kena sasaran
Jika saja matahari di orbitnya tak bergerak dan terus diam,
Tentu manusia bosan padanya dan enggan memandangRembulan jika terus-menerus purnama sepanjang zaman,
Orang-orang tak ‘kan menunggu saat munculnya datangBiji emas bagai tanah biasa sebelum digali dari tambang
Setelah diolah dan ditambang manusia ramai memperebutkanKayu gahru tak ubahnya kayu biasa di dalam hutan
Jika dibawa ke kota berubah mahal seperti emas
Oh… Imam Asy-Syafi’i, You ROCKS…!
Sampaikan Komentar Anda: