snakepit

long haired guy...

  • Home
  • Web
    • Pengembangan Situs
    • Web Monetization
  • Rockumentary
  • Life!
  • Hak Cipta
  • Tentang Saya
  • Kontak
Navigasi: Home / Life / Menakar Integritas Konsumen Bubur Ayam (Bag. 2)

Menakar Integritas Konsumen Bubur Ayam (Bag. 2)

18.04.2016

 

“…Outside the dawn is breaking
But inside in the dark I’m aching to be free
The show must go on”

Beragam intrik dan dinamika dari para konsumen bubur ayam tidak diaduk membuat saya mudah berdelusi, but the show must go on…

Penggalan lagu milik band Queen yang cukup menggugah, namun tetap saja rasa kecewa bercampur hina itu selalu membayangi. Hari di mana kami makan bubur bersama sudah menjadi momok memilukan. Mungkin seperti inilah beban yang dipikul oleh para ras Yahudi pertengahan abad 20 pasca tragedi Holocaust. Traumatik. Satu hal yang mengganggu, sejumlah orang di lingkaran sosial menghakimi saya sebagai penderita bipolar, ada pula yang mengatakan schizophrenia.

Beruntung, orang tua saya tergolong peka dan terbuka, terlebih sang ibu. Beliau selalu mendorong saya untuk terus maju dan bisa lebih fleksibel terhadap dinamika dari para konsumen bubur ayam, termasuk untuk lawan jenis. Ia tidak pernah abstain mengingatkan bahwa selisih paham antara lawan jenis itu adalah hal yang wajar, terlebih jika menyangkut prinsip. Ada yang mengasihi, ada yang bertengkar, ada yang datang, dan ada yang pergi.

Sang ibu selalu percaya bahwa akan ada hari di mana seseorang muncul tanpa menghakimi metode makan bubur anaknya. Messiah? Satrio Piningit? Entahlah. Berlandaskan intuisi, saya percaya saja. Mungkin karena hal tersebut ditranslasikan oleh orang yang sudah mensuplai saya ASI ekslusif selama 52 bulan, jadi tidak dibutuhkan penalaran rasional dan intelektualitas. Lagipula, emosional pria dan ibunya tidak akan menyisakan ruang bagi sebuah intervensi.

Seiring waktu, optimisme saya terbangun. Lirik “show must go on” itu teraplikasikan, sekalipun saya tidak pernah menjaring dukungan di linimasa. Cukup lewat dukungan ibu, sosok yang dianggap menderita schizophrenia ini berani mengambil langkah pertamanya untuk kembali ke warung bubur ayam. Adapun pilihannya jatuh pada warung bubur ayam berkonsep indie yang beroperasional lewat mini bus bermerk Carry. Ya, secara teknis memang tidak bisa disebut sebagai warung. Namun tetap disebut warung jika literaturnya merujuk pada spanduk yang mereka bentangkan di badan mobilnya.

Alhamdulillah, sambutan di sana menciptakan sebuah lanskap layaknya wisuda: Lepas tanpa beban! Sang tukang bubur ayam — yang belakangan saya ketahui ternyata belum naik haji — melempar senyuman yang hangat kepada setiap pelanggannya, tak terkecuali untuk pria yang dianggap menderita schizophrenia ini. Keramahan tukang bubur ayam itu terlengkapi oleh sikap para konsumennya yang luar biasa. Tidak pernah saya menemukan konsumen dengan integritas yang nyaris sesempurna mereka.

Dengan santai, mereka mengaduk-aduk bubur ayamnya sesuka hati. Bukan hanya itu, gaya mengaduk mereka yang variatif mengindikasikan gairah dan antusias yang tinggi. Di sisi lain, sang tukang bubur tak terusik dengan perilaku para konsumennya itu. Saya tak percaya, namun itu faktanya. Saya menjadi saksi nyata di mana sekelompok masyarakat dari berbagai latar belakang sibuk mengaduk-aduk bubur ayamnya tanpa menimbulkan pergesekan apapun.

Sebuah harapan baru dipromosikan, sementara diagnosa schizophrenia itu berhasil didegradasi. Ternyata, saya hanya butuh interaksi sosial yang baru, dan sepertinya saya baru saja menemukannya.

KONSUMEN BUBUR AYAM DIADUK – SEBUAH PERKENALAN

Sekitar 7 menit setelah momentum yang sangat krusial itu, bubur ayam saya pun tiba. Namun entah mengapa, tubuh ini mulai goyah. Gusar. Bimbang. Apakah saya aduk atau tidak? Sekalipun saya sudah ada di lingkungan baru, namun rasa bersalah atas kejadian tempo hari masih berbekas. Ada keraguan di sana.

Tiba-tiba, seorang pria paruh baya berseloroh: ”Aduk aja mas, gak ada yang marah kok.” Seketika, semua orang memandang saya dengan senyuman.

Hell yeah…! Ternyata saya ada di tengah-tengah komunitas bubur ayam yang diaduk. Merasa mendapat dukungan, akhirnya saya mengaduk bubur tersebut. Bahagia bercampur haru adalah hal yang saya rasakan. Ada kenikmatan tersendiri melihat susunan bubur ayam yang katanya hakiki itu porak-poranda. Yeah, persetan dengan strata sosial!.

Tiga empat sendok sudah terlahap, dan saya berpikir inilah saat yang tepat untuk berbincang-bincang dengan mereka perihal pandangannya terhadap bubur ayam yang diaduk. Dengan tegas, pria paruh baya yang menyapa saya sebelumnya menjawab bahwa adukan yang dilakukan pada bubur ayam itu menggambarkan sebuah kesetaraan akan kasta dan strata sosial. Itu artinya, orang yang mengaduk bubur ayam adalah orang yang menjaga kebersamaan tanpa pernah memandang latar belakang, pendidikan, jabatan, ataupun status lain dari seseorang.

Pria beruban di sampingnya kemudian menambahkan bahwa bubur, kaldu, dan suwiran ayam sejatinya tidaklah berdiri sendiri, melainkan sebuah komplementer antara satu dengan lainnya. Jujur, saya bisa menerima hal tersebut, meskipun masih ada memori akan perempuan yang sempat saya kagumi dulu akan pemahamannya bahwa bubur ayam memiliki susunan yang terpisah dan tugas masing-masing. Namun penjelasan sederhana dari pria tua yang merupakan seorang guru Madrasah itu berhasil mengubah pola pikir saya.

Masih menurut guru Madrasah yang ternyata juga merupakan pengurus Karang Taruna setempat, jika Talcott Parsons lewat paham fungsinalisme strukturalnya menganalogikan sebuah struktur sosial itu sebagai fungsi tubuh yang harus menjadi sebuah kesatuan, maka begitu pula dengan bubur ayam. Setidaknya, ada 4 fungsi penting dan mutlak untuk sebuah sistem. Hal tersebut dimulai dari adaptasi, pencapaian tujuan, integrasi, dan juga latensi. Fungsi-fungsi tersebut wajib untuk dimiliki oleh sebuah sistem agar bisa bertahan, termasuk untuk perkara bubur ayam.

Pada dasarnya, sensasi dari paduan kaldu ayam yang gurih serta manisnya kedelai hitam itu tidaklah bisa dinikmati oleh semua lidah, sehingga pemisahan adalah perilaku yang sah untuk digunakan. Namun pemisahan tersebut tak ayal terwujud karena kaldu dan kecap sudah terlanjur berbaur dengan bubur. Mungkin kedua elemen itu masih bisa dibuang, namun sudikah Anda melukai perasaan sang tukar bubur?

Itulah alasan utama mengapa pengadukan menjadi cara yang paling bijak untuk memanipulasi pemisahan tersebut. Dengan teraduknya bubur ayam, maka di saat itu pula kesempurnaan dari sistemnya bisa terpenuhi. Dalam artian lain, perbedaan strata sosial bisa kita hilangkan dengan saling menghubungkan, karena manusia memang akan saling membutuhkan, tak peduli status dan latar belakangnya.

Adapun kunci menuju integrasi sosial itu adalah dengan melibatkan kesalingbersinggungan antara seluruh sistem. Anda setuju?

KONSUMEN BUBUR AYAM DIADUK – SEBUAH PEMAHAMAN

Jika para pengagum bubur ayam tidak diaduk pada tulisan saya sebelumnya lebih memandang bubur ayam itu sebagai kelas-kelas ala Karl Marx — konsepsi konflik (proletar, menengah, kapitalis) — namun orang-orang di komunitas ini memandang bubur ayam lewat perspektif yang berbeda. Bagi mereka, bubur ayam bukanlah sebuah kelas yang terpisah, melainkan sebuah kelas utopia.

Hahaha… setelah menghabiskan hari demi hari dalam masa peraduan, akhirnya saya menemukan sebuah masyarakat hipotetis sempurna. Jadi, sekalipun orang-orang penganut paham bubur ayam tidak diaduk itu menggunakan alibi jenis strata, namun fraksi ini justru melawan dengan teori persamaan. Lebih inspiratif dan bermuatan positif bagi saya.

Apabila bubur ayam itu tidak diaduk, maka sendokan pertama hingga sendokan terakhir akan memiliki rasa yang berbeda dan bisa saja saling bertolak belakang. Atas dasar itu, dilakukanlah sebuah proses yang bernama pengadukan. Tujuannya tentu saja untuk menciptakan sebuah persamaan. Bisakah Anda membayangkan apa jadinya jika bubur ayam tersebut hanya nikmat pada bagian atas saja, namun saat memasuki lapisan terakhir Anda mulai mengeluhkan rasanya? Jika tidak habis, maka sesaklah hati sang tukang bubur. Lagi-lagi, saya berani bertaruh Anda akan beralih pada nasi kuning.

Selain itu, bubur ayam yang tidak diaduk akan menempatkan cita rasa dari kaldu dan suiran ayam menjadi hal yang dimiliki oleh lapisan teratas saja. Perlu dipahami bahwa probablitas kenikmatan bubur ayam yang tidak diaduk itu sendiri mungkin hanya berkisar 32,49% saja (koreksi jika saya salah). Padahal, potensi perpaduan rasa yang disajikan oleh tukang bubur itu bisa diperoleh hingga angka 99,97% (koreksi kembali jika saya salah). Angka yang nyaris sempurna itu bersumber dari kemampuan tukang bubur dalam mengatur takaran proporsional antara beras putih, kaldu, dan tekstur ayam dengan standar tertentu. Ada yang mengatakan bahwa standar tersebut telah melalui sejumlah pengujian di ITB dan IPB.

Adapun keberadaan kerupuk yang renyah lebih memainkan peran untuk menyeimbangkan tekstur dari bubur yang lembek. Dalam artian lain, kerupuk dijadikan sebagai alat untuk menghindari monotonnya tekstur dari bubur ayam itu. Sejatinya, bubur ayam bukan hanya untuk dinikmati oleh indera pengecap semata, karena indera penglihatan juga memiliki kesetaraan hak. Layaknya sebuah cinta: Berawal dari mata, kemudian tertambat dihati (koreksi sekali lagi jika saya salah!).

Mendengar penuturan dari mereka membuat saya gila. Sudah sampai sejauh inikah intrik di dalam tubuh para konsumen bubur ayam? Sepertinya benar kata orang-orang, saya mengidap schizophrenia.

Anggukan kecil kemudian mengubah suasana menjadi hening seketika.

DAMPAK BUBUR AYAM SAAT TIDAK DIADUK – SEBUAH REALITAS

Di tengah keheningan, tiba-tiba datanglah pemuda berkacamata gelap lengkap dengan peralatan GoPro. Cukup dengan mengangkat jari telunjuknya, sang tukang bubur ayam sudah paham bahwa pemuda tersebut memesan satu bubur ayam. Entah apa motifnya, pemuda tersebut memecah keheningan dengan bermonolog bahwa ia tidak suka mengaduk bubur ayam.

Lanjutnya lagi, mengaduk bubur ayam sama saja dengan menghilangkan strata dan estetika, sehingga bukanlah sebuah pilihan yang bijak. Pasalnya, dibutuhkan sebuah penyelarasan dan penyesuaian agar rasa dari bubur tersebut bisa dinikmati.

Saya cuek saya, karena sudah pernah mendengarnya, bedanya kali ini dari seorang pria. Celakanya, ekspresi cuek saya tidak ia tangkap. Benar kata mereka, pria itu tidak peka. Ia pun melanjutkan narasinya.

Jika bubur tersebut utuh tanpa diaduk, maka akan semakin nikmat terlihat. Jika enak terlihat, maka kita akan semakin berselera bukan? Semua jelas ada tingkatannya dan akan tercampur dengan sendirinya tanpa harus merusak (mengaduk) di mangkuk. Lagipula, saat sendok sudah mulai bergerak dari atas menuju ke dasar dan sudah masuk ke mulut, maka biarkanlah mulut kita yang “mengaduk” dengan sendirinya. Setelah itu, tugas kita hanya tinggal merasakan sensasi bubur ayam.

Mendengar ucapan pemuda itu, sontak orang di sekeliling saya menjadi geram. Mereka merasa bahwa paham yang sudah mereka bentuk sejak jaman Pak Harto itu telah dirusak oleh anak muda yang sebenarnya baru lahir saat masa reformasi sedang bertransisi. Dengan bantuan kedipan mata dan bibir yang sedikit maju, sang tukang bubur mengisyaratkan bahwa pemuda tersebut merupakan kader baru dari kelompok bubur ayam tidak diaduk.

Tersengat layaknya pemerintahan otoriter yang diserang oleh sekelompok komunis, seorang yang belakangan saya ketahui merupakan yang paling dituakan di kelompok tersebut memukul meja dan menunjuk pemuda tersebut sambil berseru: “Pernyataan Anda barusan kami terima sebagai deklarasi perang.”

Saya hanya tertegun mendengar ucapannya. Saya tidak percaya bahwa anak muda barusan telah memicu terjadinya permusuhan di tengah-tengah keharmonisan kehidupan bermasyarakat, khususnya masyarakat penikmat bubur ayam. Satu hal yang membuat saya semakin tidak percaya adalah karena saya tidak asing dengan wajah pemuda tersebut.

Ia melepas kacamatanya,

…dan dia adalah pria beraroma Chanel Coco yang makan bubur bersama kami di pagi itu.

Kategori: Life Tag: Bubur Ayam, Ideologi, Talcott Parsons

Banyak yang mengatakan tulisan saya tidak mendidik. Ya, saya memang bukanlah seorang pendidik.

Komentar

  1. Mas Galang :

    18/04/2016 pada 11:46 am

    hahaha… mabok.
    Dirampungke curhat’e mas…

    Reply
    • Snakepit :

      19/04/2016 pada 9:13 am

      hahaha…
      eh, maturnuwun pakene, kabeh enak.

      Reply
  2. back2black :

    19/04/2016 pada 9:14 am

    hahaha! berhasil move on! aduk terus bray!

    Reply
    • Snakepit :

      19/04/2016 pada 9:25 am

      Pret!
      Cederamu bagaimana?
      Masih di Jakarta? Bila tak ada aral melintang, bulan depan daku ke sana, mau beli peralatan server sekalian numpang nginap.

      Salam Kegelapan Bray!

      Reply
      • back2black :

        19/04/2016 pada 11:40 am

        siap! kesini saja.. telp saja ! haha

        Reply

Leave a Reply to back2black Cancel reply

Copyright © 2026 · Tampilan "Modern Studio Pro Theme" dengan "Genesis Framework" ·