Sebuah picisan yang diperuntukkan bagi segenap tim “BUBUR AYAM OCHA…”
Bubur ayam, makanan khalayak berpola hidup instan yang tidak memiliki kemandirian dalam menciptakan hidangan sendiri kala mentari pagi menepati janjinya untuk terbit di ujung timur sana.
Secara fundamental, bubur ayam berandil besar dalam mengawali hari, namun peran dari bubur ayam sejatinya lebih dari itu. Bubur ayam adalah sebuah cerminan. Bubur ayam merupakan perwujudan sempurna dari sebuah konsep dasar yang hakiki. Ya, bubur ayam adalah sebuah integritas dari anak manusia.
Seiring dengan bertransformasinya bubur ayam menjadi menu standar sarapan, maka saat itu pula umat manusia terbelah menjadi dua bagian. Kubu yang pertama diisi oleh mereka yang menganut paham bahwa bubur ayam itu tidak perlu diaduk. Sementara itu, ada pihak lain yang berseberangan dengan mengusung keyakinan bahwa bubur ayam layak untuk diaduk.
Terdengar tabu? Tapi ya, begitulah dunia kita bekerja. Adanya perbedaan seperti itu, meskipun terdengar kecil, tak bisa menafikan fakta bahwa dunia yang kita tinggali ini memang dijejaki dengan berbagai perbedaan konsep. Benar dan salah, positif dan negatif, hitam dan putih, ying dan yang, diaduk dan tidak diaduk.
Lantas, di mana Anda memposisikan diri? Apakah pada fraksi bubur ayam tidak diaduk, atau memilih sebagai pengikut kelompok bubur ayam yang diaduk?
KONSUMEN BUBUR AYAM TIDAK DIADUK – SEBUAH PERKENALAN
Sebelumnya, saya ingin memperkenalkan diri sebagai pribadi yang skeptis dan cenderung tidak mengindahkan hal-hal kecil yang terjadi di lingkungan rukun tetanga dan rukun warga. Namun alam berhasil menyeleksi sikap seperti itu dan luruh kala dihadapkan dengan kompleksitas bubur ayam, diawali dari yang tidak diaduk.
Sejumlah alasan hadir untuk membuat orang-orang tidak mengaduk bubur ayamnya. Mulai dari alasan yang terstruktur hingga yang tak bermoral sekalipun. Namun ada satu alasan emosional nan edukatif yang membuat saya terlarut, yaitu kaedah tatanan.
Tanpa saya sadari, atau karena sikap skeptis itu sendiri, banyak hal yang saya lewatkan begitu saja dalam proses pembuatan bubur ayam. Padahal, ketika bubur ayam diracik, maka saat itu pula ada sejumlah kaedah tatanan yang berlangsung secara berentetan. Semuanya bermula dari:
- Menyiapkan bubur,
- Menyiramkan kaldu,
- Menghiasi dengan suwiran ayam, seledri, dan kacang (opsional),
- Mempermanis dengan kecap,
- Mengakhiri dengan tambahan kerupuk.
Lihatlah bagaimana bubur ayam itu dibuat, sudah ada tatanannya tersendiri. Dalam ilmu sosiologi, proses pembuatan bubur ayam seperti di atas bisa digolongkan ke dalam situasi yang bernama strata sosial. Saya rasa, Anda sudah cukup bijak untuk melihat bagaimana strata tersebut disusun dengan sempurna.
Kala bubur itu disendok untuk pertama kalinya (tanpa diaduk), seketika itu pula terasa sebuah susunan yang hakiki. Dalam artian lain, bubur ayam yang terlanjur diaduk tidak akan mampu mempromosikan susunan yang hakiki tersebut. Jadi, wajar kiranya jika mereka melarang kita mengaduk bubur ayam, karena hanya akan merusak susunan atau lapisan dari strata itu sendiri.
“Ingat, bubur ayam bukanlah mi instan, apalagi kopi. Selain perihal tatanan sosial, mengaduk bubur ayam sama saja dengan menghilangkan keindahan dari bubur itu sendiri. Anda merusak sebuah instalasi seni!”
Namun dikarenakan sense of art setiap manusia itu berbeda-beda, ada baiknya jika kita bergeser pada hal yang lebih jamak. Dari kacamata sosial, bubur ayam sebenarnya bisa kita golongkan menjadi 3 lapisan, yaitu:
– Lapisan Pertama: Kaum Proletar
Pada lapisan pertama atau bagian bawah, Anda akan menemukan bubur dengan kuantitas yang lebih intens. Hal tersebut bukanlah tanpa alasan. Pasalnya, kuantitas bubur yang lebih tersebut ditujukan untuk menggambarkan kaum proletar. Sebuah istilah yang sering disematkan oleh kaum borjuis untuk mengidentifikasi kelas sosial yang jauh lebih rendah dari dirinya. Sebuah kaum yang sangat termarjinalkan namun pada merekalah dasar kekuatan yang sebenarnya terletak. Seperti itulah lapisan terbawah dari bubur ayam.
– Lapisan Kedua: Kaum Kelas Menengah
Pada lapisan kedua, Anda akan menemukan suwiran dari daging ayam, seledri, dan taburan kacang yang merupakan interpretasi dari middle class. Nah, peran dari middle class inilah yang akan memberikan pengaruh cita rasa ke atas dan ke bawah. Meski demikian, keberadaan dari middle class ini bukanlah aktor utama, karena bisa saja tersingkirkan jika penguasa tak menghendaki (Baca: Konsumen bubur ayam).
– Lapisan Ketiga: Kaum Kelas Atas
Terakhir, Anda akan menemui curahan dari kecap manis yang disambut dengan tangan terbuka oleh kerupuk. Kecap manis dan kerupuk inilah yang digolongkan ke dalam upper class, kaum fancy yang memiliki kekuasaan tanpa batas akan dunia. Tapi bagaimanapun juga, jika kecap dan kerupuk ini ditempatkan dalam porsi yang berlebih, maka hilanglah kenikmatan itu. Jadi, jangan heran melihat setiap wilayah di dunia ini memiliki kaum upper class dengan jumlah terbatas.
KONSUMEN BUBUR AYAM TIDAK DIADUK – SEBUAH PEMAHAMAN
Berlandaskan alasan-alasan yang sudah dikemukakan sebelumnya, maka wajar saja kiranya jika mereka yang menganut sistem bubur ayam tidak diaduk akan senantiasa berpegang teguh pada prinsipnya. Sebuah prinsip yang memang layak untuk diperjuangkan. Bagi mereka, susunan strata yang sudah sempurna itu hanya akan meninggalkan kegamangan saat diaduk, bahkan berpotensi menimbulkan chaos. Masih ingat kerusuhan Mei 98’?
Anda bisa membayangkan apa jadinya jika kerupuk yang secara kodratnya berbunyi “kriuk” saat dimakan tiba-tiba kehilangan esensinya hanya karena sudah bercampur dengan bubur ayam yang telah teraduk? Melempem. Tak berdaya.
Seperti itulah susunan strata kehidupan saat diaduk, tak peduli apa motifnya.
Bubur ayam yang awalnya memiliki guritan yang indah dan begitu instagram-able seketika berubah wujud menjadi seonggok gumpalan yang porak poranda, tak elok dipandang. Sungguh, jika hal tersebut benar-benar terjadi, apakah Anda masih memiliki hasrat untuk melahap bubur ayam tersebut? Saya mulai meragukan kesetiaan Anda dan lebih yakin bahwa Anda akan menerima pinangan dari partner in crime sang bubur ayam, yakni nasi kuning.
Secara garis besar, kehidupan sudah memiliki takarannya sendiri, termasuk bubur ayam. Semua sudah ada posisinya. Jadi, untuk apa lagi Anda mengaduk bubur ayam?
Inilah alasan paling realistis sehingga banyak orang yang menyandarkan ideologinya pada sistem bubur ayam yang tidak diaduk.
DAMPAK BUBUR AYAM SAAT DIADUK – SEBUAH REALITAS
Saya pribadi kenal dekat dengan salah satu dari mereka, dan saya sempat menyimpan hati padanya. Namun apa lacur, bubur ayam menjadi jurang pemisah. Jadi sebenarnya, problematika remaja saat ini yang dipisahkan oleh cara pandang saat makan Beng-Beng merupakan pola yang berulang dan sudah sering terjadi. Perbedaannya terletak pada objek yang digunakan saja.
Pada dasarnya, figur yang saya kagumi tersebut memiliki paham anti fungsional struktural. Dirinya begitu yakin bahwa masing-masing bahan di dalam bubur telah memiliki tugas yang didasarkan pada susunan tertentu. Adapun susunannya akan ditetapkan oleh tukang bubur itu sendiri.
Bagaimanapun juga, entah siapa yang mengamandemen, harus diakui bahwa dunia memang sudah mengamanatkan kenikmatan bubur ayam pada tangan cekatan sang tukang bubur, tidak peduli ia sudah naik haji atau belum. Artinya, tanpa kita mengaduk bubur ayam sekalipun, maka kenikmatannya tetap akan terasa.
Bagi saya pribadi, dampak sosial bubur ayam yang diaduk itu sangat amat terasa kala momen silaturahmi dengan orang yang saya kagumi harus berakhir. Dikarenakan adanya keterlibatan bumbu-bumbu romantisme di sana, maka kejadian tersebut bisa saya tuliskan secara detil. Berikut kisahnya:
Selepas sholat subuh, bersenjatakan layanan aplikasi chat gratis, kami kemudian mengagendakan untuk mengawali hari dengan berangkat ke kampus bersama. Lebih awal. Itu artinya, kami juga akan sarapan bersama. Sebagai seorang pria dan sebagai orang yang dipercayakan dalam mengambil keputusan, maka saya memilih bubur ayam sebagai hidangan sebelum melakukan presentasi dengan rekan-rekan civitas akademika yang sedari semalam menanyakan kesiapan kami berdua.
Di sinilah hikayat itu bermula. Tanpa didasari pengetahuan yang cukup akan integritas konsumen bubur ayam, saya langsung saja mengaduknya dan sontak orang yang saya kagumi itu melakukan pentas sarkasme. Ia menghakimi pria yang sebenarnya adalah penyuka Céline Dion ini sebagai sosok perusak, anarkis, dan tidak bisa menghargai. Menurut perempuan yang juga menyukai Céline Dion itu, adukan yang saya lakukan terhadap bubur ayam sudah menurunkan nilai estetika yang disusun sedemikian rapinya oleh sang tukang bubur.
Sebuah miskonsepsi. Terlalu berlebihan. Terlalu dibuat-buat pikir saya. Namun hal itu tergolong wajar mengingat perempuan keturunan Jawa itu memang dibesarkan di dalam lingkungan keluarga yang menjunjung tinggi tata krama dan rasa hormat terhadap kearifan lokal. Memang saya yang ceroboh.
Selain itu, dari aspek ilmu kedokteran (Ayahanda dari perempuan itu adalah seorang praktisi gizi), mekanisme sistem imun di dalam tubuh ternyata bisa memberikan respon penolakan terhadap bubur yang sudah diaduk dan kemudian ditanggapi sebagai serangan dari luar. Hasilnya bisa ditebak, kandungan nutrisi di dalam bubur tersebut tidak bisa terserap secara optimal oleh sistem pencernaan.
Maka sia-sialah usaha dari tukang bubur itu.
Jika ada satu hal yang bisa meringankan situasi saya, tak lain adalah tukang bubur yang waktu itu ternyata sudah naik haji. Diiringi dengan hati yang besar dan senyuman kecil, ia memaklumi sikap saya yang sudah “mengobrak-abrik” tatanan buburnya. Namun sayang, toleransi seperti itu ternyata tidak berlaku pada perempuan yang saya kagumi.
Pada akhirnya, ia berpaling dengan pria wangi di seberang yang ternyata sangat jeli melihat kesalahan yang barusan saya perbuat. Layaknya magnet, kutub utaranya bisa saling tarik-menarik dengan kutub selatan milik orang yang saya puja-puja selama ini. Tak ayal, kutub utara perempuan tersebut menghadap kutub utara saya. Terjadilah gaya tolak-menolak.
Semakin lama, tubuh yang awalnya memiliki sifat magnetik ini kemudian bermetamorfosa menjadi feromagnetik, disusul oleh perubahan paramagnetik, dan harus berakhir sebagai benda diamagnetik saja. Akhirnya saya sadar diri, selama ini saya hanyalah tipe magnet besi lunak (stalloy) yang terbuat dari 96% besi dan 4% silikon. Jadi, wajar jika sifat magnetik yang saya miliki tidak keras dan hanya bersifat sementara.
Letak dan arah magnet elementer benar-benar sudah menjadi acak. Bentuk dan struktur butiran nasi benar-benar sudah menjadi bubur, dan itu nyata! Sepertinya, perempuan itu tidak melihat masa depannya bersama saya dan di waktu bersamaan tersadar bahwa masa depannya ada pada pria yang mengeluarkan wewangian khas Chanel Coco.
Lewat gestur tubuhnya, ia menyiratkan bahwa tatanan sosial itu tidak boleh diaduk karena nilai hakiki dari tatanan sosial itu sendiri akan musnah, tak ada lagi keteraturan di sana. Padahal, tatanan sosial itu sudah dibentuk sedemikian rupa dan akan terus melekat di dalam lapisan kehidupan bermasyarakat.
Sialnya, hal tersebut ternyata bisa tercermin lewat cara seseorang memperlakukan bubur ayam. Dan cara saya dalam memperlakukan bubur ayam waktu itu ternyata mencerminkan sikap yang berpotensi merusak tatanan sosial.
Maaf, saya hanya pria tak berparfum yang terbatas pengetahuannya akan tatanan sosial (dan ilmu gizi).
Bersambung…
Selanjutnya: Menakar Integritas Konsumen Bubur Ayam (Bag. 2)
Aduh pak ian, makin ngawur aja
kpn ke surabaya, dicariin ama pak waluyo tuh. Katanya dia ada vps baru, butuh tester mungkin.