Saya sedang mengakses wifi di sebuah café guna streaming album baru dari Stone Sour bertajuk Hydrograd. Selain mendapatkan musik yang sudah saya idam-idamkan sejak 4 tahun lamanya, aktivitas ini juga membantu saya untuk membunuh waktu yang entah mengapa terasa lebih lamban menjelang final Liga Champions. Sayangnya, saya harus menarik diri kala seorang pria menghampiri saya dengan senyuman penuh optimisme. Saya berniat menolak, namun pria yang sudah sangat tersohor di lingkungan kami ini langsung menghajar dengan baris-baris keramahan.
Setelah ia melalui punchline yang gagal membalikkan premis, saya sudah bisa menebak ke mana arah pembicaraan tersebut. Pun ketika ia lanjut mengajarkan saya mengenai cashflow quadrant dan financial freedom sembari mengenalkan bisnis barunya lewat metode cocokmologi, menyulap bisnis tersebut seakan-akan merupakan implementasi sempurna dari teori-teori yang sudah ia paparkan sebelumnya. Ini dia, MLM!
Saya menjelaskan bahwa saya tidak memiliki ketertarikan untuk tercemplung ke dalam kolam MLM, yang tentu saja langsung ia potong agar air kolam yang sudah keruh karena kandungan kotorannya telah mencapai titik jenuh itu bisa jernih kembali. Saya kembali menyimak, sembari menunjukkan gestur tidak nyaman agar ia mafhum bahwa saya hanyalah pengunjung café regular yang tidak memiliki potensi sebagai seorang downline. Alih-alih menerima, ia justru menghunus pedangnya lewat tawaran bonus-bonus bernafaskan skema piramida.
Dan, inilah yang membuat saya risih dengan MLM, risih ketika mereka memaksakan keinginannya terhadap orang lain. Semakin mereka menunjukkan agresifitas, semakin skeptis saya memandangnya. Apalagi saat mereka mementaskan skenario data-fakta yang saat diserang balik, ternyata mereka tidak mampu memberi validasi. Sekalipun ada, referensinya bersifat memihak. Melihat mereka sama seperti melihat Zakir Naik dengan berbagai sketsa panggungnya. Boring dan sarat buchailisme!
Pada satu titik, saya sangat setuju ketika pegiat MLM ini mengatakan bahwa masyarakat kita sangat jauh akan semangat kewirausahaan. Namun saya geli ketika mereka mengklaim bahwa MLM merupakan salah satu bentuk wirausaha. Saya juga setuju saat ia berkata bahwa persaingan hidup di era modern ini membuat banyak sarjana sulit mendapatkan pekerjaan. Namun saya ingin menghantam kepalanya ke meja saat ia mengklaim bahwa MLM inilah yang akan menjadi solusi dari minimnya lapangan kerja tersebut.
Tak lupa, ia mulai memadankan penghasilan karyawan/PNS dengan penghasilan dari MLM. Tak hanya itu, ia juga berujar bahwa menjadi pengusaha (MLM) itu lebih mulia dari pekerjaan lain (PNS) karena pengusaha itu digaji langsung oleh Tuhan. Saya merasa risih, mengingat Ibu saya adalah seorang PNS. Dan dari dulu, saya selalu jijik dengan orang yang merasa mulia dikarenakan memiliki pekerjaan yang lebih baik dari orang lain, sekalipun nilai yang lebih baik itu hanya klaim sepihak. Tak ada bedanya dengan mereka yang menganggap dirinya lebih superior dari orang lain hanya karena mewariskan Avanza dari orangtuanya.
Memasuki segmen akhir, pembicaraan kami mulai kurang kondusif kala ia bertanya berapa usia saya dan berapa penghasilan saya. Lewat senyum sinis, dirinya memvonis bahwa saya sebenarnya bisa menghasilkan uang yang lebih banyak dari apa yang sudah saya lakukan selama ini. Bahkan dengan algoritma piramida ponzi yang ia agung-agungkan itu, dirinya mampu menetapkan berapa angka yang bisa saya dapatkan dalam 12 bulan ke depan, yang tentu saja harus melalui jalur bisnisnya tersebut. Passive income, kata beliau. Hasilnya, ia sukses menciptakan sebuah situasi di mana apa yang selama ini saya perjuangkan dalam hidup adalah hal yang salah, dan saya harus segera bertobat dengan mengikuti ajarannya. Saya adalah domba, dan dia adalah gembalanya.
Takut dicap sebagai seorang kafir, perlahan saya menggeser posisi duduk menuju layar plasma. Satu persatu pengunjung café berseragam sepakbola membantu untuk mengungsikan saya dari situasi tersebut.
***
Lewat tulisan ini, saya tidak bermaksud untuk memusuhi individu-individu MLM. Apa yang saya kritisi adalah cara mereka dalam melakukannya. Teori dan gagasan yang terlalu berlebihan itu membuat mereka terkesan mendiskreditkan orang lain, menciptakan lubang dalam pikirannya, kemudian berusaha mengisi dengan mimpi-mimpi yang luar biasa memabukkan. Tanpa disadari, mereka sudah memainkan opini dengan menjadikan pekerjaan orang lain itu sebagai sebuah racun, kemudian mengajukan MLM sebagai penawarnya.
Toh, pada akhirnya, tulisan ini hanya akan berakhir pada sudut ingatan terjauh mereka saja, tanpa pernah bisa meneduhkan moncong-moncong manisnya. Dan sampai kapanpun, MLM, money game, skema piramida, atau apapun namanya itu, akan selalu ada di Indonesia dan akan ada saja yang mengikutinya. Mengapa? Karena MLM selalu menjanjikan penghasilan puluhan hingga ratusan juta per bulan tanpa harus melakukan apa-apa.
Karena MLM merupakan sistem yang sesuai dengan kepribadian bangsa Indonesia: MALAS!.
Sampaikan Komentar Anda: