snakepit

long haired guy...

  • Home
  • Web
    • Pengembangan Situs
    • Web Monetization
  • Rockumentary
  • Life!
  • Hak Cipta
  • Tentang Saya
  • Kontak
Navigasi: Home / Life / Jilboobs…!!!

Jilboobs…!!!

10.08.2014

Jika Anda membuka halaman ini sambil mengharapkan ilustrasi, sebaiknya kubur harapan tersebut. Di sana ada teknologi bernama Google Images.


Jilboobs, bukan perihal yang mutakhir, namun kini menjadi aktual di media pasca KPAI dan MUI menunjukkan simpatinya. Saya pun ikut memanfaatkan momentum tersebut lewat ketukan keyboard.

Semuanya berpangkal di sebuah warung bakso, kala bulatan daging yang lebih didominasi oleh tepung terigu itu tiba-tiba saja terasa amat “gurih”. Sebuah kegurihan yang diciptakan oleh sapaan bernada halus nan lembut. Dan… sebaris “Hey…!” baru saja terlontar dari seorang kerabat yang mampu memenuhi unsur-unsur “jilboobs”.

DIBALIK SEBUAH JILBOOBS

Sejatinya, jilboobs adalah kombinasi dari 2 kata yang disingkat, yaitu “Jil” untuk jilbab dan “Boobs” untuk payudara. Secara teorema, jilboobs adalah sosok wanita yang mengenakan jilbab, namun bagian payudaranya masih terekspos. Kondisi yang niscaya akan mengasah insting para pria, termasuk saya.

Ya, saya menyukainya. Namun terasa aneh kala diperankan oleh kerabat sendiri.

Pada kondisi ini, saya berasumsi bahwa modis merupakan pemicu utama dari munculnya fenomena jilboobs. Adapun internet saya anggap sebagai pemain tunggal. Bagaimana tidak, keterbukaan informasi membuat dunia fashion semakin beragam dan menarik, membuat setiap orang selalu ingin ambil bagian, termasuk dengan saudari-saudari kita yang islam itu. Ketertarikan terhadap fashion itu sendiri merupakan hal yang normal, dan tak ada relevansinya dengan latar belakang agama seseorang. Tapi wilayahnya menjadi berbeda jika dia adalah seorang muslimah, mengingat posisinya sebagai ambasador Islam itu sendiri.

Janggal, mengingat jilbab adalah pakaian yang ditujukan untuk menutupi dan menjaga aurat wanita agar tidak menjadi maksiat bagi kaum pria. Sementara di tepi yang lain, saya berkali-kali melakukan maksiat mata dengan hal tersebut, baik secara terbuka maupun lewat delusi. Sekali lagi, saya menyukainya. Akan tetapi, perasaan suka tersebut berasimilasi dengan perasaan aneh, sehingga membuat saya kurang nyaman.

Apakah ini salah saya? Mungkin saja.

Sulitnya menjadi pria adalah karena Anda memiliki insting yang tajam terhadap objek yang menonjol.

Berjilbab, berhijab, berkhimar, atau apapun mereka menyebutnya bukan berarti mengekang kreatifitas seseorang dalam berbusana, termasuk untuk remaja putri yang hormon estrogen-nya sedang mendominasi. Akan tetapi, pemakaiannya yang sudah melenceng dari definisi awal – saya ingin menulis melenceng dari syariat agama, tapi rasanya saya kurang kompeten untuk itu – akhirnya mendatangkan beragam kritik. Alasan mereka pun variatif, mulai dari ketidaktahuan, pencarian jati diri, hingga ada pula yang memang sengaja menciptakan fenomena baru sambil berharap bisa menjadi parameter bagi muslimah gaul. Pop Culture? Ya, saya lebih menganggapnya demikian.

“Kenakanlah apa yang orang lain kenakan. Keren itu bukan saat Anda menilainya keren, namun ketika orang lain menilainya keren”. Inilah yang membuat saya bersikap dingin terhadap budaya pop.

Sekalipun tidak dirumuskan secara eksplisit, namun sejumlah penalaran di atas sepertinya sudah cukup untuk membentuk hipotesis preliminer akan munculnya fenomena jilboobs itu sendiri. Sebuah fenomena di mana wujud kain semata-mata digunakan untuk menutupi bagian kepala saja. Sisanya, hanya berupa kombinasi dari baju dan jins ketat nan transparan yang selanjutnya menegaskan garis tubuh sang pemakainya.

Tapi sekali lagi, terlepas dari kontroversinya, saya akui dengan sepenuh hati bahwa saya sangat menyukainya.

MISKONSEPSI PENUTUP AURAT

Secara umum, setiap kontroversi mengenai cara berpakaian muslimah di Indonesia itu selalu muncul karena tidak adanya pemahaman dasar akan konsep dari jilbab, hijab, khimar, kerudung, penutup kepala, dan sebagainya. Sebagai contoh, belakangan ini hijab menjadi istilah yang sangat populer digunakan oleh masyarakat Indonesia sebagai alternatif dari kata jilbab. Bahkan seorang kerabat pernah mengatakan bahwa hijab itu adalah bahasa Inggris untuk jilbab. WTF?!?!

  • Hijab adalah kata dalam bahasa Arab yang berarti penghalang. Pada beberapa negara berbahasa Arab serta negara-negara Barat, kata hijab lebih sering merujuk kepada kerudung yang digunakan oleh wanita muslim. Namun dalam keilmuan Islam, hijab lebih tepat merujuk kepada tatacara berpakaian yang pantas sesuai dengan tuntunan agama.
  • Jilbab adalah busana muslim terusan panjang menutupi seluruh badan kecuali tangan, kaki dan wajah yang biasa dikenakan oleh para wanita muslim. Penggunaan jenis pakaian ini terkait dengan tuntunan syariat Islam untuk menggunakan pakaian yang menutup aurat atau dikenal dengan istilah hijab (dalam arti seperti ditunjukkan dalam pengertian hijab di atas). Jadi, jilbab ialah pakaian yang longgar dan dijulurkan ke seluruh tubuh hingga mendekati tanah sehingga tidak membentuk lekuk tubuh.
  • Khimar adalah pakaian yang didesain untuk menutupi kepala, leher dan menjulur hingga menutupi dada wanita dari belakang maupun dari depan (termasuk menutupi tulang selangka). Khimar ini tidak diikatkan ke leher seperti kerudung, karena jika hal tersebut dilakukan, maka akan memperjelas bentuk lekuk dada dari wanita. Jadi khimar harus menjulur lurus kebawah dari kepala ke seluruh dada tertutupi.
  • Kerudung hampir mirip dengan khimar, namun kerudung tidak dianjurkan dalam Islam. Sebab, desain kerudung cuma sebagai penutup kepala saja. Kerudung yang hanya sebagai penutup kepala, tidak sepanjang khimar yang mampu menutupi dada wanita sekaligus. Kerudung hanya menutup kepala atau leher saja, akan tetapi bentuk lekuk tubuh pada bagian leher dan dada masih terlihat.

Dengan merujuk hal di atas, bisa dikatakan bahwa dalam fenomena jilboobs ini, para pelakunya sebenarnya tidak berjilbab. Mengapa? Karena mereka sudah mengaburkan defenisi awal dari jilbab itu sendiri. Dalam artian lain, jilboobs merupakan terminologi yang salah. Tidak tepat jika kita mengatakan bahwa cara berjilbab mereka salah, karena dari awal mereka memang tidak berjilbab. Apa yang mereka kenakan hanyalah penutup kepala dan baju berprinsip sederhana: Membungkus tubuh, bukan menutup tubuh.

Membedakan antara menutup dan membungkus itu tidak susah. Sebagai analogi, menutup itu membuat sesuatu tidak terlihat bentuknya, seperti menutup pintu sehingga isi rumah tidak terlihat. Sementara membungkus, layaknya ketika kita membungkus kado di mana bentuk aslinya masih bisa terlihat atau diterka.

Apapun itu, didasarkan pada proses iman yang berbeda dari setiap individu, saya selalu menaruh apresiasi yang besar terhadap muslimah yang mau menutup auratnya. Lagipula, banyak di antara mereka yang memang masih dalam fase awal. Terlebih jika hal tersebut dilakukan di era media sosial di mana pop culture merupakan rujukan utama. Jadi terlepas dari hasil akhirnya, keputusan untuk menutup aurat adalah langkah yang baik. Mungkin benar bahwa mereka baru belajar. Bisa pula dikarenakan bentuk aurat mereka secara biologis diwariskan di atas rata-rata sementara kondisi finansialnya belum memungkinkan untuk membeli pakaian yang longgar.

***

Saat akan mengakhiri tulisan ini, saya tiba-tiba teringat pesan dari guru mengaji saya waktu itu, bahwa tidak ada yang sia-sia diciptakan oleh Tuhan di dunia ini. Saya pun mulai berpikir: “Apakah mungkin fenomena jilboobs ini memang sengaja diciptakan oleh Tuhan agar saya memiliki bahan tulisan di pagi-pagi buta ini? Atau mungkin agar naluri saya sebagai seorang pejantan bisa tetap terjaga?”.

Entahlah. Satu hal yang pasti, Tuhan selalu memiliki selera yang bagus.

Kategori: Life Tag: Jilbab, Payudara

Banyak yang mengatakan tulisan saya tidak mendidik. Ya, saya memang bukanlah seorang pendidik.

Sampaikan Komentar Anda: Cancel reply

Copyright © 2026 · Tampilan "Modern Studio Pro Theme" dengan "Genesis Framework" ·